Sabtu, 15 Juli 2017

Topeng

Aku pernah disukai tanpa ingin menyukai. Aku pernah berpura-pura tak mau tau tentang itu dan seolah sengaja menyakiti. Seolah tak punya hati dan tak tau diri, tentang semua keuntungan yang aku dapat selama ini. Tentang hal yang membuatku tersadar bahwa dicintai adalah; pelajaran bagaimana menghargai perasaan orang lain.

Dicintai adalah bagaimana kau menyikapi setiap hal yang tak kau suka tentang dia. Tentang sesuatu yang membuat kau risih. Tentang usaha seseorang yang sengaja tak kau peduli. Sengaja kau abaikan. Sengaja kau buat benci. Agar dia tak lagi ada di setiap notifikasi telfon genggammu, agar dia tak lagi muncul di setiap urutan chat media sosialmu, agar dia lelah dengan semua hal yang bahkan tak kau inginkan keberadaannya.

Dan aku berusaha menerjemahkan rasa yang pernah aku rasakan dahulu. Berusaha membalikkan kejadian saat ini dengan rasa yang dulu. Dengan perasaan bagaimana rasanya mengabaikan, tidak mempedulikan, menganggap yang menyukaiku adalah selingan aktifitasku di saat rasa bosan muncul, lalu aku kembali pada hal yang membuat ia merasa sakit. Semua itu kulakukan demi tidak ingin menyalahkan kamu, demi menganggap apa yang tlah kau lakukan adalah sebuah ketidak-sengajaan, demi semua yang terjadi adalah memang salahku; memulai lagi hal yang seharusnya sudah selesai.

Hingga akhirnya saat ini, aku terperangkap dalam permainanku. Permainan yang membuat kau tak sadarkan diri, mungkin. Tentang dilema apakah aku harus memendam lagi atau siap kehilangan kamu berulangkali. Adalah sebuah kewajaran ketika seseorang bertepuk sebelah tangan, dan sudah tau sebelum menyatakan. Hingga akhirnya, aku lebih memilih menggunakan topeng agar kau tak tau tentang rasa ini, agar kau tak jauhi aku lagi, agar kau tetap di sini; meskipun hatiku tersakiti dengan caraku sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar