Aku teringat…
Ketika kita berdiskusi. Membicarakan pelik hidup. Bertukar pikiran seputar masalah yang sedang hangat terjadi. Membicarakan hal-hal kecil yang bahkan sepertinya tidak terlalu penting. Terkadang, kau banyak bertanya tentang apa yang tidak kau ketahui. Dan aku menjawab seperti segalanya sudah tertanam di otak kiri. Padahal, kau mungkin tidak tahu betapa repotnya aku mencari-cari jawaban hanya karena ingin dianggap mumpuni. Tapi, aku suka cara polosmu mempertanyakan banyak hal, dalam arti lain; aku suka kau butuhkan.
Sabtu, 28 Oktober 2017
Jumat, 27 Oktober 2017
Saya rela; asal bukan pertengkaran
Bisakah kita
berbincang sejenak? Bukan dalam permasalahan yang sedang terjadi; tentang
hatimu yang tidak bisa saya miliki, atau perihal rencanamu untuk berhasil
membuat kita saling berjauhan. Melainkan, renungan tentang apa yang kita jalani
selama ini. Tentang persahabatan yang menjatuhkan saya dalam rasa nyaman yang
tidak kamu inginkan. Lagi-lagi, saya bosan membahas saya yang jatuh cinta
sendirian. Kamu pasti mengerti maksud saya apa.
Kita tidak saling melepas
Saya percaya, tidak ada satu pun rasa yang bisa melawan
hati. Entah untuk munafikannya, hati tetaplah hati. Bahkan ketika ia berkata
“tidak”, ada sebuah rahasia di balik kebohongannya. Ada perihal yang mesti
didahulukan ketimbang perasaan.
Saya juga percaya kalau kamu pasti tahu perasaan saya yang sebenarnya. Berpeluh-peluh memperjuangkan kejujuran hati ini agar kamu terus mengetahui, akhirnya tidak ada yang lebih baik untuk saya kecuali berbohong demi kebaikan. Termasuk membohongi hati ketika kita harus berjauhan.
Senin, 23 Oktober 2017
-
Hidup adalah
timbal balik. Kalau kamu berbuat baik, kamu akan mendapat kebaikan. Kalau kamu
berbuat jahat, kejahatan akan berbalik meski dari orang yang berbeda. Kamu
hanya perlu menjalani hidup selayak, sewajar yang kamu anggap baik di matamu,
meski belum tentu baik di mata mereka. Setidaknya, kamu berusaha mengeluarkan
apa yang terbaik yang ada di dirimu. Tidak peduli mereka berkata pencitraan.
Kamu tidak pantas meladeni sampah lisan yang tak berkelas. Sakit hatimu tidak
harus dibalas jika kamu merasa ikhlas.
Minggu, 15 Oktober 2017
Sampai kapan?
Barangkali, kita sering tidak menghargai pertemuan. Mengabaikan beberapa keharusan yang tidak kita inginkan. Seperti halnya, kau tak pernah menganggap hadirnya seseorang. Pikiranmu tidak luput dari masa lalu. Hatimu tertutup rapat dengan kunci yang kau hilangkan. Kakimu terasa sulit melangkah pada arah yang baru. Kau hanyut dalam lukamu sendiri. Kau diperalat olehnya. Tubuhmu membengkak di kala seseorang mendekapmu erat. Garis besarnya, kau tak menerima kehadiran orang baru yang didatangkan oleh-Nya.
Kau lebih suka berdiam dalam kegelapan yang kau ciptakan sendiri. Berharap pada puing-puing masa lalu yang telah hilang diterpa sang waktu. Kau bermimpi, dan lebih ingin hidup dalam mimpimu itu. Sampai kapan? Sampai ada yang meyakinkanmu bahwa dirinya hanya benalu di hidupmu? Sampai seseorang memaksamu membenci sosoknya sepenuh pikiranmu? Atau bahkan, sampai sesuatu menampar keras hatimu dengan luka, kesakitan, harapan yang kau tanam, melalui dirinya yang sengaja melakukan itu tuk membuatmu putus asa?
Bagusnya, kau tersadarkan.
Buruknya, kau masih ingin mencintainya meski tanpa balasan.
Kau lebih suka berdiam dalam kegelapan yang kau ciptakan sendiri. Berharap pada puing-puing masa lalu yang telah hilang diterpa sang waktu. Kau bermimpi, dan lebih ingin hidup dalam mimpimu itu. Sampai kapan? Sampai ada yang meyakinkanmu bahwa dirinya hanya benalu di hidupmu? Sampai seseorang memaksamu membenci sosoknya sepenuh pikiranmu? Atau bahkan, sampai sesuatu menampar keras hatimu dengan luka, kesakitan, harapan yang kau tanam, melalui dirinya yang sengaja melakukan itu tuk membuatmu putus asa?
Bagusnya, kau tersadarkan.
Buruknya, kau masih ingin mencintainya meski tanpa balasan.
Selasa, 10 Oktober 2017
Lebih baik begini
Lebih baik begini. Kau dan aku tidak lagi saling mendekat. Kita sedikit lebih berjarak. Barangkali, ada renungan yang bisa kita pikirkan, ada pikiran yang membuat kita tersadarkan. Di antara aku dan dirimu, ada tembok yang membatasi, ada kenyataan yang sulit kau terima, ada pertanyaanmu yang belum mampu ku jawab.
Iya, aku mengerti perih yang ada di hatimu. Harap-harap yang kau bangun jauh-jauh hari. Mengenai kita yang kau anggap dekat, padahal belum tentu anggapanmu ku setujui. Kau hanya sedang jatuh hati, dan baikku selalu kau anggap lebih. Itu mungkin yang membuatmu merasa kita sedang dekat. Itu mungkin yang membuatmu berpikir aku memberi harapan.
Aku minta maaf jika kita harus berjauhan. Mungkin kau benar, kita tidak bisa untuk berteman. Karena kau selalu jatuh hati denganku, dan aku tetap tak bisa memberi hatiku kepadamu.
Lebih baik begini, jarak yang ikut menjawab pertanyaanmu yang kemarin, agar tidak ada yang saling menyakiti. Dan aku rasa kau juga harus benar-benar rela jika nanti aku pergi.
Iya, aku mengerti perih yang ada di hatimu. Harap-harap yang kau bangun jauh-jauh hari. Mengenai kita yang kau anggap dekat, padahal belum tentu anggapanmu ku setujui. Kau hanya sedang jatuh hati, dan baikku selalu kau anggap lebih. Itu mungkin yang membuatmu merasa kita sedang dekat. Itu mungkin yang membuatmu berpikir aku memberi harapan.
Aku minta maaf jika kita harus berjauhan. Mungkin kau benar, kita tidak bisa untuk berteman. Karena kau selalu jatuh hati denganku, dan aku tetap tak bisa memberi hatiku kepadamu.
Lebih baik begini, jarak yang ikut menjawab pertanyaanmu yang kemarin, agar tidak ada yang saling menyakiti. Dan aku rasa kau juga harus benar-benar rela jika nanti aku pergi.
Jumat, 06 Oktober 2017
Oktober, hujan
Setiap pagi, aku selalu merindukan sapaan hangat darimu. Melebihi hangatnya matahari yang tak pernah absen menyinari.
Kau mungkin matahariku yang sedang berhenti melakukan tugasnya, yang sedang berjauhan dengan buminya. Aku, buminya.Kamis, 05 Oktober 2017
Ketika hujan turun
Mungkin, musim yang baru harus membawaku pada perasaan yang baru. Sebuah perubahan yang mengajarkanku untuk lebih tegar, untuk lebih mendengar, memilah mana yang benar dan meninggalkan semua yang samar. Termasuk dirimu.
Mungkin, kau juga akan seperti perubahan musim itu. "Pelan-pelan, kamu pasti bisa...", ku bayangkan bisik itu dari batinmu, yang sulit kau sampaikan kepadaku. Terngiang di setiap diamku saat rinai hujan turun. Rintiknya mengingatkan aku untuk kembali mengenang kita. Sesuatu yang menjadi sebab bukan hanya awan yang bisa membasahi buminya, melainkan mata pun mampu meneteskan airnya ke tanah, saat kau memilih berubah dan memastikan segalanya harus kembali pada hal yang benar. Kau mengajarkan aku untuk menerima perubahannya.
Mungkin, kau juga akan seperti perubahan musim itu. "Pelan-pelan, kamu pasti bisa...", ku bayangkan bisik itu dari batinmu, yang sulit kau sampaikan kepadaku. Terngiang di setiap diamku saat rinai hujan turun. Rintiknya mengingatkan aku untuk kembali mengenang kita. Sesuatu yang menjadi sebab bukan hanya awan yang bisa membasahi buminya, melainkan mata pun mampu meneteskan airnya ke tanah, saat kau memilih berubah dan memastikan segalanya harus kembali pada hal yang benar. Kau mengajarkan aku untuk menerima perubahannya.
Rabu, 04 Oktober 2017
Semudah itu?
Bukankah tetap bertahan adalah alasan kebanyakan mereka yang masih ingin terus mencintai? Bukankah cinta tidak selalu membicarakan indahnya saja hanya karena ingin dilanjuti? Bukankah setiap perbedaan seharusnya menjadi pelengkap yang tak kau miliki? Lalu, alasanmu untuk sudahi ini semua, hanya karena dirinya yang tak mencoba untuk mengerti? Hanya karena dirinya tak satu pemikiran lagi dengan jalan yang kau jalani? Hanya karena tak lagi sama tentang prinsip-prinsip yang awalnya kau banggakan serasi? Lalu, dengan semua perbedaan-perbedaan yang kau anggap akan saling melengkapi, resiko-resiko mencintai berarti menerima yang mungkin akan tak kau sukai, harus kandas hanya karena kau dan dia lelah untuk saling mendaki? Lelah untuk saling mengingat sejauh mana rintangan yang telah kau lewati? Lelah karena tak ada lagi yang mau mengalah untuk tak egois? Semudah itu, kau akhiri segalanya dengan kata jenuh? Dengan alasan tak lagi bisa dipertahankan? Dengan masalah-masalah yang kau dan dia sengaja menumpuk lalu tak kunjung diselesaikan? Dengan apapun yang kau anggap tak ada lagi keserasian? Semudah itu, kau gugurkan dirimu di hatinya setelah sekian lama berjalan, mempertahankan, menyamakan, apa yang selama ini kau bangga-banggakan dengan penuh pengorbanan?
Langganan:
Postingan (Atom)