Jumat, 21 Juli 2017

Hanya opini

Kali ini aku mau ber-opini tentang kamu. Aku mau bercerita sedikit hal kecil tentang kamu; menurut aku...


Kamu tau aku kenal kamu bukan cuma sehari-dua hari. Bukan cuma sekedar sapa-menyapa. Bukan juga hanya saling tau nama. Aku kenal kamu, sangat dalam. Aku kenal kamu, melebihi dari ekspektasi-ekspektasi pikiranmu tentang aku yang sok tau. Aku kenal kamu, karena kau juga tau; hati ini pernah saling menjaga. Saling. Dan sekarang, tidak. Hm... iya, tidak.

Aku tau semua hal tentang kamu. Sifat kamu yang selalu ingin tau, yang selalu asyik jika sudah membahas candaan, yang selalu ingin dimengerti tanpa mau mengerti orang lain kalau orang lain pun butuh ceritamu untuk bisa mengerti kamu; yang kamu inginkan. Bagaimana orang bisa mengerti dan menolong kamu, jika kamu saja tak ingin bercerita. Bagaimana kamu bisa menganggap kalau orang lain sangat peduli denganmu, jika kamu saja tak ingin beri tau masalahmu. Aku hanya bosan selalu diberi tanggapan seolah-olah kamu tidak ingin membahasnya, tapi di sisi lain, kamu selalu mengeluh dengan masalahmu. Setiap kali aku bertanya, tak satu kata pun keluar menjawab pertanyaanku. Tidak apa-apa, kita lewatkan saja, lupakan. Namun beberapa menit kemudian, kau seolah menarikku untuk membahasnya lagi. Lalu, aku harus bisa baca pikiranmu? harus tau sendiri masalahmu? harus lakukan hal mustahil apa lagi? mau mu apa sih?

Sekarang, kamu sedih, orang lain yang salah? kamu sedang bermasalah, orang lain juga yang salah? aku tak salahkan kamu tentang sikapmu yang seperti ini. Kamu pun mungkin tak berpikir kalau aku bisa sejauh ini ber-prasangka tentang kamu. Tenang, ini hanya opini. Sekali lagi; opini. Hanya saja, tolong, setidaknya hanya aku, iya, aku; beri tau aku caranya untuk bisa menembus hatimu agar kau mau bercerita tentang semua hal yang buatmu gelisah. Agar kau percaya, aku peduli tentangmu. Kau tau aku? biasanya ada pada barisan pertama jika diandalkan seputar urusan menjaga; itu pun kalau kau ingin percaya. Kalau kau ingin percaya, sekali lagi.

Jadi aku itu serba salah. Atau memang sebenarnya aku yang salah? terlalu peduli dan ingin tau tentang bagaimana kamu. Padahal, jika aku tak lakukan itu, kau biasa saja. Banyak juga di luar sana mungkin yang melebihi lebay-nya aku ketika sok peduli dengan keadaanmu. Iya, kan? Aku cuma tak ingin terus-menerus terlalu percaya diri. Peranku di sini adalah; yang penting kamu terhibur. Urusan aku? nanti saja lah itu bisa kapan-kapan. Ingat! aku hanya ber-opini. Opini tidak selalu benar. Jika kau tak terima dengan ke-sok-tau-an ku saat ini, coba saja beri opini mu tentang apa yang aku ceritakan di atas. Tapi ingat juga! aku katakan ini tidak terlepas dari aku; yang sudah mengenalmu sangat dalam. Dan mungkin tak terbatas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar