Sabtu, 22 Juli 2017

Malaikat jahat

"Kau mau apa lagi? belum cukup dengan semua tanda yang telah diberikan? belum cukup dengan semua prasangka-prasangka negatifmu yang selalu benar? masih mau jadi pahlawan yang tak diundang? masih berusaha mewujudkan ekspektasi-ekspektasimu yang tak mungkin? berapa pertanyaan lagi agar kau bisa tersadarkan?

Kau pun sudah tau tentang semua yang terjadi. Lalu, masih mau sok berdiri kuat dengan satu kakimu yang pincang? tak usah dipaksa. Apalagi sampai berlari. Dia tak jual sebuah perban untukmu jika kau jatuh nanti. Bahkan kalau dia sadar kau sedang berlari, seharusnya dia tak biarkan kamu lakukan itu hanya untuk mengejar cintanya, jika ia peduli denganmu. Tapi nyatanya? dia tak peduli. Percayalah! 

Kau tak usah sombong dengan segala perjuanganmu yang selalu ditunjukkan. Dia tak butuh itu. Benar-benar tidak butuh. Kau tak usah berharap pelangi datang untukmu di saat musim panas berkepanjangan. Kau tak usah sewa matahari hanya untuk menutupi awan gelapmu yang ingin menangis. Kau tau? aku tau dirimu lelah. Aku tau dirimu hanya sekedar ingin diperhatikan. Tapi nyatanya? kau benar-benar hanya dianggap angin lewat oleh dirinya. Harus berapa kalimat cacian lagi yang kau butuhkan?

Kau hanya kurang sibuk dan tak mencari. Kau terlalu menganggap hanya dirinya yang bisa menemani. Tak sadarkah kau itu satu di antara mereka yang berada di posisi yang sama denganmu? kau itu barisan paling belakang yang mungkin tak dapat jatah nasi lagi. Kau itu tak ada bandingnya jika harus berdiri sejajar dengan makhluk yang ia cintai. Yang sudah kau tau, bahwa ia tlah termiliki. Biarkan saja aku menjadi malaikat jahat yang selalu memberimu prasangka buruk tentang dirinya. Semua itu karena kau terlalu percaya diri. Terlalu berpikir hanya dirimu satu-satunya yang ia cari di kemudian hari. Sungguh, kau itu sampah tak diakui!"

Sebuah kalimat dariku yang berbicara untuk diriku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar