Pagi ini, aku menulis tentang kamu ditemani kopi. Kopi ini tidak terlalu manis, tidak juga terlalu pahit. Aku membuatnya sesuai seleraku. Karena yang meminum pun hanya aku. Yang berpendapat pun juga hanya aku. Jadi, aku harus memantapkan rasanya agar tak mengecewakan diri sendiri. Iya, jangan sampai mengecewakan diri sendiri; kan, yang meminum pun hanya aku. Terlalu pahit atau terlalu manis, aku selalu tau takarannya. Karena aku punya selera, yang mungkin orang lain pun belum tentu miliki selera yang sama denganku. Yang mungkin orang lain menganggap seleraku itu salah.
Bicara seputar selera. Setiap manusia miliki seleranya masing-masing. Setiap manusia selalu punya alasan mengapa ia memilih sesuatu sebagai standar pilihannya; selera, maksudku. Dan kau pun tau, selera itu datangnya dari diri sendiri dan tak ada pihak luar yang bisa menentukan bagaimana selera yang seharusnya kau suka. Sama seperti halnya aku memilih kamu. Kau tau ini sangat gila, membahas hal yang seharusnya sudah terlupa, tapi tetap saja masih menempel di sela-sela otakku. Sekali lagi, ini kan selera. Terserah yang miliki selera. Dan kau; selera ku. Maka, aku ingin membahas perihal mengapa aku memilih kamu; sampai saat ini. Maksudku, hanya yang saat ini saja. Yang dulu-dulu? tak usah lah itu, kau pun juga sudah tau. Maaf, terkadang masih labil.
Pernah sedikit terpikir untuk bertanya kenapa aku masih berharap? tidak? bagus. Masalahnya aku pun tak tau jawabannya apa. Mungkin hanya terbesit sedikit opini darimu; bagaimana bisa kau masih mengharapkan aku disaat banyak yang lewat di depanmu, dan kau juga tau, aku ini masa lalu mu yang sudah sangat lama dan sudah berlalu. Kok, bisa saja masih aku di hatimu? Coba, buka sedikit hatimu untuk yang lewat di sana. Harus berapa kalimat lagi aku katakan; aku juga tidak tau. Kau kenal aku bukan sehari-dua hari, kan? Kau tau sifat dan sikapku yang dulu pernah aku ceritakan pada mu? tentang; aku tak mudah untuk menyukai seseorang. Seharusnya kau dapat jawaban dari pertanyaanmu itu lewat kalimatku "aku tak mudah untuk menyukai seseorang". Satu kalimat yang miliki banyak penjabarannya. Kau mau aku menuliskan semua jabarannya? gila, memang. Coba ingat-ingat saja sendiri! Aku pernah menceritakannya, kok. Itu pun kalau kau ingat dan sadar.
Aku sudah bilang, setiap orang miliki selera kopi yang berbeda. Dan berkali-kali lagi aku katakan; orang lain tak berhak untuk menentukan selera kopi ku. Kan, aku yang meminumnya. Kan, aku yang menjalankannya. Bukan orang lain. Jadi tolong, jangan salahkan mengapa aku masih berharap pada mu. Ini kombinasi antara sifatku juga mungkin; susah tuk menyukai seseorang, dan jika sudah nyaman, susah untuk menggantikannya dengan yang lain. Meskipun dalam keadaan saat ini, kau tak lagi berpihak padaku. Meskipun dalam keadaan saat ini juga, aku mengetahui semua yang aku lakukan itu sia-sia. Biarlah, aku tau seleraku. Meskipun itu menyakitkanku. Biarlah, kan aku yang merasakan. Bukan orang lain. Biarlah; kali ini aku tak pandai meracik takarannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar