Terimakasih untuk mengajarkan bagaimana rasanya menyerah perlahan. Dengan menceritakan berulang-ulang tentang bahagiamu dengan dirinya. Memberi setiap kode-kode sikapmu yang secara tak langsung memaksaku untuk sudahi ini semua. Untuk tak lagi mengejar yang tak mungkin. Untuk bisa merasakan terbiasa tanpa berkomunikasi denganmu. Percayalah, semua ini masih bagian dari proses, agar aku benar-benar siap untuk menerima saat-saat tak ada laginya namamu di telfon genggamku, tak ada lagi notifikasi pesan masuk darimu, tak ada lagi hal yang muncul di otakku; tentang kamu.
Aku berusaha untuk tidak lagi peduli tentang apapun yang membuatmu sedih, tentang apapun yang membuatku ingin bertanya dan menghibur seketika. Karena apa yang aku lakukan adalah hanya membunuh rencana baikku; untuk tidak lagi mengganggumu, untuk tidak lagi merasa percaya diri hanya aku lah yang mampu membantumu, memberi setiap apapun yang kau butuh.
Aku berusaha untuk membuat kamu berpikir positif tentang apa yang aku lakukan akhir-akhir ini, tentang semua isi pesan yang cuma-cuma, yang tak penting, yang bahkan tak kulakukan pun tak apa-apa; agar tak lagi ada di kemudian hari. Bukan untuk menghindarimu, bukan juga untuk berubah menjadi seperti apa yang kau tak kenal dari diriku. Aku hanya ingin belajar untuk bisa merasakan rasanya terbiasa berbicara sendiri, berpikir sendiri, berasumsi sendiri, tentang apapun yang seketika ingin aku lakukan untukmu di kemudian hari; adalah sebuah kesia-sia-an yang tak seharusnya aku ulangi. Percayalah, semua ini kulakukan, karena nyatanya kau masih ada di hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar