Setiap hubungan yang baik selalu terdiri dari dua individu yang berbeda kriteria dalam memilih seseorang. Bukan hubungan saja, pdkt-an juga bisa. Rata-rata, kontras dengan sikapnya tersendiri. Bukan dalam hal karena tak serasi. Tapi untuk menjadi satu dari dua perbedaan yang bertujuan saling melengkapi. Sekarang, ibaratnya, jika kau dan dia sama-sama miliki sifat dan sikap yang sama, tak ada keseruan untuk mendaki lagi. Kau akan cukup dengan dirinya yang memuaskanmu, dan dia juga akan cukup dengan dirimu sebagaimana dirimu yang ia suka. Tak ada rintangan, tak ada level naik kelas, tak ada sesuatu yang buatmu greget.
Aku menyadarinya tentang hal yang selalu aku lakukan terhadap seseorang. Mungkin, aku terlalu menjadi pribadi yang sempurna di matanya. Maksudku, terlalu menuruti, terlalu buatnya tak berjuang, terlalu tak buat ia pusing memikirkan keburukan sikapku yang enggak dia banget. Maksudku, hal-hal yang aku lakukan terlalu membuatnya merasa jenuh dan bosan. Tak ada rintangan, tak ada sesuatu yang buat ia terus penasaran buatku untuk jadi lebih baik. Kadang, aku butuh diriku untuk kacau dan hancur sesekali agar membuat dirinya semakin ingin untuk tau lebih jauh tentang pribadiku ini. Agar dia mau membenarkan buruknya aku. Agar dia, tak ragu menerima perasaan-ku.
Aku sudah bilang aku baru menyadarinya akhir-akhir ini. Bukan berarti aku mengalaminya saat ini juga. Mungkin dia sosok seseorang yang tidak ingin jalan di tempat. Maksudku, tidak ingin segalanya mesti terpenuhi. Aku harus kacau, mungkin. Aku harus sesekali egois, mungkin. Aku harus buat sesuatu yang bisa menaikan emosi dia, mungkin. Agar apa? agar semua hal yang telah dilakukan tidak tetap hambar dan tanpa bumbu. Agar aktifitas yang berjalan tidak berjadwal itu-itu saja. Agar dia; tidak bosan. Aku baru menyadarinya, dia mungkin memang jenuh dengan caraku bersikap kepadanya, dia mungkin bosan dengan caraku yang itu-itu saja, dia mungkin inginkan aku untuk lebih menuntutnya kerja keras ketika dekat denganku, bukan hanya aku saja. Dan aku baru sadar, aku tidak menjadi diriku sendiri saat dekat dengan dia. Aku baru sadar, caraku memperlakukan dia itu terlalu kuno dan polos hanya karena inginkan dirinya tuk suka denganku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar