Rabu, 04 Oktober 2017

Semudah itu?

Bukankah tetap bertahan adalah alasan kebanyakan mereka yang masih ingin terus mencintai? Bukankah cinta tidak selalu membicarakan indahnya saja hanya karena ingin dilanjuti? Bukankah setiap perbedaan seharusnya menjadi pelengkap yang tak kau miliki? Lalu, alasanmu untuk sudahi ini semua, hanya karena dirinya yang tak mencoba untuk mengerti? Hanya karena dirinya tak satu pemikiran lagi dengan jalan yang kau jalani? Hanya karena tak lagi sama tentang prinsip-prinsip yang awalnya kau banggakan serasi? Lalu, dengan semua perbedaan-perbedaan yang kau anggap akan saling melengkapi, resiko-resiko mencintai berarti menerima yang mungkin akan tak kau sukai, harus kandas hanya karena kau dan dia lelah untuk saling mendaki? Lelah untuk saling mengingat sejauh mana rintangan yang telah kau lewati? Lelah karena tak ada lagi yang mau mengalah untuk tak egois? Semudah itu, kau akhiri segalanya dengan kata jenuh? Dengan alasan tak lagi bisa dipertahankan? Dengan masalah-masalah yang kau dan dia sengaja menumpuk lalu tak kunjung diselesaikan? Dengan apapun yang kau anggap tak ada lagi keserasian? Semudah itu, kau gugurkan dirimu di hatinya setelah sekian lama berjalan, mempertahankan, menyamakan, apa yang selama ini kau bangga-banggakan dengan penuh pengorbanan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar