Hidup adalah
timbal balik. Kalau kamu berbuat baik, kamu akan mendapat kebaikan. Kalau kamu
berbuat jahat, kejahatan akan berbalik meski dari orang yang berbeda. Kamu
hanya perlu menjalani hidup selayak, sewajar yang kamu anggap baik di matamu,
meski belum tentu baik di mata mereka. Setidaknya, kamu berusaha mengeluarkan
apa yang terbaik yang ada di dirimu. Tidak peduli mereka berkata pencitraan.
Kamu tidak pantas meladeni sampah lisan yang tak berkelas. Sakit hatimu tidak
harus dibalas jika kamu merasa ikhlas.
Itu sama halnya
jika kamu mencintai seseorang. Timbal balik berlaku di perkara ini. Tidak harus
secara langsung dan jelas, sayangnya. Orang yang kamu cintai mungkin
mencintaimu balik dengan caranya sendiri. Dengan apa yang ia anggap baik
meskipun kamu tidak melihat kebaikannya. –barangkali,
pupus mendominasi tema tulisan ini.
Saya, tentunya.
Sedang berusaha melihat apa yang kamu lakukan adalah kebaikan untuk saya, kamu,
atau kisah kita selanjutnya. Bahwa memang tidak segalanya cinta harus dibalas
dengan perlakuan yang sama. Bahwa memang apa yang saya rasakan juga mungkin
kamu rasakan meski perlakuanmu berbeda. Saya memahami, rasa sayang lebih pantas
dari apa yang kita jalani. Bukan rasa cinta. Jika perpisahan adalah bentuk rasa
sayang agar ke depannya tidak ada yang tersakiti, saya akan jalani dengan paham saya yang sudah saya tulis di
pertengahan kalimat, bahwa; jika menurutmu perpisahan ini adalah yang terbaik
untuk kita, saya akan menerimanya meski ini belum jadi yang terbaik untuk
ketidaksiapan hati saya.
Semoga cerita-cerita
baru menjadi perbincangan di pertemuan yang baru, kelak; jika Tuhan
berkehendak. Terimakasih atas segala kenangan yang membekas.
Saya cinta –juga sayang, kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar