Saya percaya, tidak ada satu pun rasa yang bisa melawan
hati. Entah untuk munafikannya, hati tetaplah hati. Bahkan ketika ia berkata
“tidak”, ada sebuah rahasia di balik kebohongannya. Ada perihal yang mesti
didahulukan ketimbang perasaan.
Saya juga percaya kalau kamu pasti tahu perasaan saya yang sebenarnya. Berpeluh-peluh memperjuangkan kejujuran hati ini agar kamu terus mengetahui, akhirnya tidak ada yang lebih baik untuk saya kecuali berbohong demi kebaikan. Termasuk membohongi hati ketika kita harus berjauhan.
Barangkali, kemarin-kemarin pikiran saya penuh ego. Terlalu
mengejarmu tanpa sadar. Hingga berujung nestapa dalam jalan kesalahan. Enyah
dari fakta yang harus saya telan tanpa mengelak. Dan pada akhirnya, terjawab
dengan adu lisan di mana seperti bukan saya yang ada dalam pertikaian kita.
Seperti bukan ingin saya yang ada pada maksud kata perkata. Kebaikan membawa
saya harus membohongi perasaan. Menjatuhkan saya dari tinggi tembok harapan.
Ada kemauan yang harus dihilangkan. Ada salah satu dari kita
yang harus mengalah tanpa pernah merasa kalah. Dan saya, ataupun kamu yang mengalah,
tidak pernah benar-benar kalah dalam kenyataan. Kita hanya memutuskan
berhubungan dengan cara yang berbeda. Dengan jalan yang tidak lagi salah. Untuk
sementara, mungkin. Atau pun selamanya… secara jelas; hati yang kemarin keras;
saya tidak pernah benar-benar merasa kita saling melepas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar