Ketika kita berdiskusi. Membicarakan pelik hidup. Bertukar pikiran seputar masalah yang sedang hangat terjadi. Membicarakan hal-hal kecil yang bahkan sepertinya tidak terlalu penting. Terkadang, kau banyak bertanya tentang apa yang tidak kau ketahui. Dan aku menjawab seperti segalanya sudah tertanam di otak kiri. Padahal, kau mungkin tidak tahu betapa repotnya aku mencari-cari jawaban hanya karena ingin dianggap mumpuni. Tapi, aku suka cara polosmu mempertanyakan banyak hal, dalam arti lain; aku suka kau butuhkan.
Katamu, aku keras. Kalau sudah tidak, ya tidak. Kalau sudah dinasehati, tetap saja berat hati. Tapi jika sudah amarah yang menjadikanmu cara untuk membuat kerasku luntur, aku bisa apa. Kau semestaku; jangan sampai egoku membuatmu lelah mendampingi. Tegur aku sekuat mungkin jika aku terlalu merasa benar, jinakan aku semampumu jika cara berpikirku terlalu liar. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain perbedaan sikap kita menjadi kesempurnaan tatkala melengkapi. Itu yang membuatku jatuh hati.
Bahkan ketika aku hilang arah karena penat persoalan hidup yang membuatku lemah, kau dengan leluasa membuka ruang tamu lebar-lebar. Menerima suka duka yang ingin ku sampaikan dalam bentuk cerita. Sampai akhirnya, ada sesuatu yang mengganjal dalam hati. Kali ini, aku banyak berpikir tentang kita. Mungkin, kedekatan ini tidak akan terus berlama-lama. Suatu saat, aku harus ikhlas melepasmu dengan bebas. Melupakan apa yang telah kita lalui. Menjadikan dirimu dan diriku asing kembali. Mau tidak mau, aku akan melewati masa-masa itu lagi. Mengulangi segalanya dari awal dan melupakan kita yang pernah berdekatan; hanya karena kau tidak ingin ada kebersamaan. Entah untuk dipertemukan dengan perasaan yang baru, atau bahkan tidak akan bertemu lagi, aku hanya ingin sedikit menyampaikan; jangan lupakan apa yang membuat kita pernah saling mempertahankan, sampai akhirnya tak ada alasan lagi untuk tidak melepaskan. Barangkali, itulah yang menjadikan satu-satunya kita bisa saling mengenang.
Salam…aku yang sedang tenggelam dalam kerinduan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar