Minggu, 15 Oktober 2017

Sampai kapan?

Barangkali, kita sering tidak menghargai pertemuan. Mengabaikan beberapa keharusan yang tidak kita inginkan. Seperti halnya, kau tak pernah menganggap hadirnya seseorang. Pikiranmu tidak luput dari masa lalu. Hatimu tertutup rapat dengan kunci yang kau hilangkan. Kakimu terasa sulit melangkah pada arah yang baru. Kau hanyut dalam lukamu sendiri. Kau diperalat olehnya. Tubuhmu membengkak di kala seseorang mendekapmu erat. Garis besarnya, kau tak menerima kehadiran orang baru yang didatangkan oleh-Nya.

Kau lebih suka berdiam dalam kegelapan yang kau ciptakan sendiri. Berharap pada puing-puing masa lalu yang telah hilang diterpa sang waktu. Kau bermimpi, dan lebih ingin hidup dalam mimpimu itu. Sampai kapan? Sampai ada yang meyakinkanmu bahwa dirinya hanya benalu di hidupmu? Sampai seseorang memaksamu membenci sosoknya sepenuh pikiranmu? Atau bahkan, sampai sesuatu menampar keras hatimu dengan luka, kesakitan, harapan yang kau tanam, melalui dirinya yang sengaja melakukan itu tuk membuatmu putus asa?

Bagusnya, kau tersadarkan.
Buruknya, kau masih ingin mencintainya meski tanpa balasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar