Kamis, 02 November 2017

Detik

Waktu akan terus berputar. Mengikuti waktunya adalah keharusan, bukan sebuah pilihan. Hidup ini terlalu sia-sia jika hanya terkurung dalam satu kesedihan. Tentangnya, kau begitu mendamba setengah jiwa. Mematikan kakimu melumpuh di pertengahan jalan. Hanya karena menunggu kepergian dirinya untuk berbalik arah. Kau bodoh, sayang; dia takkan menyesal dengan keputusannya.

Kau lihat jam di dinding itu, detiknya terus memutar ke arah kanan. Angka yang dilewatinya semakin menambahkan usiamu. Namun, tersadarpun tidak meski tua sedang berusaha menghantuimu. Kita bisa lihat itu dalam perihal cinta, sekali lagi; betapa dirimu mati tak berlogika. Jasadmu hangat namun tak berotak. Kau buang ke mana kado Tuhan itu? Karena dirinya, kau rela tersesat dalam lorong yang sudah jelas kau ketahui gelapnya. Berusaha mematikan detik dalam jam hanya karena terlanjur nikmat rasakan lukanya. Kepergiannya menjadikan dirimu candu untuk terus berdiam diri menunggunya. Baginya, kau terlalu berlebihan. Bagimu, kau sudah dalam kegilaan. Berapa lama lagi kau tertinggal oleh detik jam itu? Oh Tuhan, hambamu yang ini benar-benar gila dalam kesedihan.

Melangkahlah, angkat kakimu perlahan. Meski bebannya tidak bisa kau buang. Meski lukanya lagi-lagi merobek jahitan. Yang kau cinta tidaklah menyimpan peduli, pun kembali memberimu kesempatan bertubi-tubi; barangkali kau perlu diberi hal negatif tentangnya untuk bisa melarikan diri. Tapi, ah, kau tidak berusaha berlari. Salah apa mereka yang peduli? Salah apa aku yang peduli? Dia lagi yang kau bela tanpa ada kekurangan. Dia lagi yang kau inginkan meski sadar akan perpisahan.

Terserah saja! Lihat jam di dinding itu, detiknya masih berputar ke arah kanan. Berjanjilah di dalam hati, meski masih sulit untuk mewujudkan. Tidak apa perlahan, asalkan kau tidak lagi terlena dalam kegagalan. Hidup ini terlalu sia-sia, untuk satu hati yang menyia-nyia, sayang...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar