Persoalannya, nyatanya kau sudah tau kau sendiri, dan nyatanya lagi, kau membiarkan dirimu terus berjalan untuk hal yang sudah kau ketahui bahwa kau akan; jatuh berkali-kali."
Aku sudah tau kalau aku akan terjatuh. Bahkan mungkin berkali-kali jika kuteruskan lari ini. Aku sudah tau aku mengkhianati kata-kataku sendiri. Bahkan ketika kata-kata itu tak ku akui lagi, semua karena aku memilih buta dan tuli. Dan mencoba menyampingkan perihal prinsipku demi usahaku mengejar kamu lagi.
Kalau kata orang, atau kata siapapun itu; hanya keledai yang jatuh ke lubang yang sama, dua kali. Mungkin aku rela dikatakan keledai, atau bahkan dikatakan makhluk yang bisa melebihi bodohnya keledai. Atau sejenis binatang lain yang mampu menggambarkan betapa rendahnya pemikiranku untuk memilih berlari kembali. Berlari untuk tau bahwa aku akan jatuh lagi. Demi kamu, lagi.
Sekarang aku baru sadar dan berusaha untuk bangkit kembali dari jatuhku. Aku baru sadar apa yang tlah aku lakukan padamu adalah sebuah ketololan yang sudah pasti kan sia-sia. Kalau kau tanya apakah aku benar-benar mencintaimu, aku akan jawab; aku mencintaimu melebihi cintaku pada diriku sendiri. Kalau kau tetap tidak percaya, biarkan saja. Aku tak seperti orang-orang yang memiliki kewajiban untuk beritahu tentang banyaknya pengorbanan yang mereka lakukan. Biar kau rasakan sendiri saja. Atau jika kau tak mau dan tak sadar akan rasa itu, biar saja. Aku sudah tau resiko berharap tanpa diharapkan. Aku sudah siap lebih dulu sebelum aku putuskan untuk lakukan hal yang membuatku jatuh kembali.
Sekarang aku tak tau apa yang harus aku lakukan lagi. Semua tergantung pada dirimu yang memegang kuncinya. Aku harus terjatuh atau masih dibiarkan berlari? aku harus menang atau masih diulur-ulur waktu lagi? semua tergantung kamu. Semua tergantung inginnya kamu. Kalau aku harus lupa, aku butuh kamu untuk katakan itu. Kalau aku harus mundur, aku butuh kamu yang meyakinkan itu, aku butuh kamu yang secara langsung membuatku tersadarkan, aku butuh kamu yang kendalikan hati ini harus apa, biarpun itu sakit. Karena aku tau, jika semua ini berujung tak berpihak padaku, aku tak bisa mandiri untuk lakukan hal yang tak ingin kulakukan; yaitu berhenti mengejarmu lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar