Saya tahu, kamu tidak pernah jatuh cinta dengan saya. Saya bahkan tahu, saya hanya bahan di waktu kosongnya kamu saat dia tidak ada. Saya sadar penuh apa yang saya lakukan adalah kemauan, dan apa yang kamu respon adalah sebuah ketidaksengajaan. Sehingga kita terpadu dalam satu ruang yang dinamakan pelarian. Kamu namakan pelarian itu sebagai pertemanan, sedangkan saya terlanjur menganggap pelarian itu sebuah celah harapan. Bagaimana tidak? kamu memenuhi hari saya tanpa ingin tahu kalau saya mungkin bisa saja jatuh cinta. Kamu membiarkan saya terus berbicara denganmu tanpa peduli kalau saya benar-benar menjadi jatuh cinta. Kamu tahu? kalau saya telah salah, kemudian kamu biarkan saja tanpa memberi hukuman untuk saya agar menjauh segera. Jadi, kesalahan penuh ada pada siapa?
Jelas tetap saya.
Saya mengaku paling mengerti kamu, tapi tidak pernah bisa menerima keputusanmu. Saya mengaku paling mencintai kamu, tapi tidak pernah mau tahu ada yang lebih pantas menjagamu. Saya mengaku saya paling benci jika ada yang menyakiti kamu, tapi saya tidak pernah menyadari kalau saya hampir menghancurkan kisah cintamu. Saya mengaku saya sudah salah, tapi tetap berusaha mencari celah, membuatmu merubah pikiran, memaksamu untuk merubah perasaan, meyakini diri sendiri bahwa kamu kemungkinan jatuh cinta untuk kedua kalinya dengan orang yang berbeda; saya.
Padahal jelas-jelas...
Kamu tidak pernah jatuh cinta, bahkan tidak pernah berniat membuat saya jatuh cinta. Kamu tidak pernah sengaja menarik saya dalam kisahmu, bahkan saya sendiri yang terpental masuk untuk ingin tahu segalanya. Kamu tidak pernah seolah-olah hanya membutuhkan saya, bahkan mungkin tak ada pundak saya pun kamu bisa mencari teduh di tempat yang lain. Kamu sangat baik, dan saya terlanjur begitu tertarik.
Dan akhirnya...
Saya harus pergi, atau berpura-pura pergi, atau mengusir perasaan ini untuk jalan menuju tahu diri.
Dan akhirnya...
Kamu harus tega, atau berpura-pura tega, atau memaksa membuat saya menyesal telah jatuh cinta.
Dan akhirnya...
Kita saling mempelajari, kembali pada perihal yang seharusnya kita sadari; mengasingkan perasaan demi sebuah pertemanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar